Sabtu, 12 Oktober 2013

jalan setapak menuju muslimah seutuhnya




Dunia ini penuh perhiasan, dan perhiasan terindah adalah wanita shalihah.” Berangkat dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini, setiap wanita muslimah, pasti ingin menjadi wanita shalihah. Beruntung wanita yang diberi nama “ Mar’atus Shalihah” atau “Imroatus Shalihah” karena nama merupakan doa yang dipanjatkan, berharap sipemilik nama sesuai dengan yang diberikan.
Menurut penulis, pada zaman sekarang tidak adan wanita shalihah. Yang ada hanyalah wanita yang berusaha untuk menjadi shalihah. Dengan kata lain, menjadi muslimah seutuhnya. Dan untuk menjadi wanita shalihah, prosesnya amat teramat sangat sulit. Mengapa saya berkata demikian? Karena penulis adalah “ one of them” yang berusaha untuk menjadi muslimah seutuhnya. Kita sebagai muslimah harus shalihah namun bukan berarti lemah.
Wanita shalihah menurut penulis, dapat melalui beberapa metode. Diantaranya adalah :
1.       Sabar
2.       Qana’ah
3.       Tegar
4.       Jujur
5.       Berdoa
Sekilas, pengaplikasian sabar, qana’ah dan tegar dalam kehidupan sama. Namun, menurut penulis berbeda. Ketiga metode diatas memiliki penerapan masing-masing.
                Pertama, sabar saat menghadapi hal-hal yang menghalangi melangkah untuk menjadi yang lebih baik. Senantiasa menanamkan dalam hati bahwa Allah akan bersama kita jika kita mampu bersabar. Sesuai firman Allah :
........ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“…sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar  ( QS. Al Baqarah : 153 )
                Kedua, qana’ah atas segala hal yang kita miliki. Belajar untuk tidak mengeluh terhadap segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Semisal, ketika melihat wanita lain tampak elok mengenakan berbagai macam busana mahal yang indah, beragam aksesoris yang unik atau barang-barang mahal lainnya. Percayalah apa yang kita miliki sekarang merupakan anugerah yang terindah dan terbaik bagi kita. Selama busana yang kita kenakan sesuai dengan syari’at. Serta  senantiasa memupuk rasa syukur karena Allah berfirman :
لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)
                Ketiga, tegar dikala mendapat kritikan, celaan, cacian serta cercaan dari orang lain. Jadikan kritikan sebagai batu pijakan untuk menjadi wanita shalihah, jangan sampai hal-hal tersebut menjadi penyebab terjerumusnya diri kedalam jurang keputus asaan. Teguhkan pendirian dan kokohkan niat untuk menjadi lebih baik. Karena yang tahu tujuan hati hanyalah Allah dan pemilik hati itu sendiri. Sesuai dengan sabda Nabi :
عن ابي هريرة عبد الرحمن بن صخر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلعم : ( ان الله تعالى لا ينظر الى اجسامكم و لا الى صواركم ولكن ينظر الى قلوبكم) (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah Abdirrahman bin Shokhrin ra. Berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “ Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat kalian dari jasad dan bentuk kalian, melainkan dari hati kalian.” (HR. Muslim)
                Keempat, jujur dalam segala hal. Karena berawal dari kejujuran diri, kepercayaan pada diri orang lain akan tertanam. Ingatlah bahwa nabi bersabda :
قل الحق ولو كان مر
“ berkatalah jujur walaupun pahit “
                Kelima, mengiringi setiap usaha kita diatas dengan doa. Karena usaha tanpa doa itu sombong dan doa tanpa usaha itu bohong. Maka, senantiasalah berdoa dalam keadaan apapun. Meminta pertolongan, lindungan, dan bimbingan Allah. Sesuai firman Allah :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”
Demikianlah setitik ulasan yang dapat penulis ungkapkan, semoga bisa bermanfaat. Layaknya para sufi yang berusaha menduduki maqam tertinggi disisi Allah, dengan melalui berbagai maqam sebelumnya dengan usaha. Alangkah baiknya kita pantang menyerah untuk menjadi muslimah seutuhnya dalam kacamata Islam. Semoga kita merupakan salah satu diantaranya. Amin.









Selasa, 08 Oktober 2013

SOMETHING ABOUT DEWI SRI PART 2



Enam tahun sudah dari hari itu, kuhabiskan waktu maghrib di musholla kecil ini. Hanya untuk menunggu terulangnya kejadian yang membuatku mempercayai kembali agamaku. Mustahil memang, namun entah mengapa keyakinanku untuk bertatap muka lagi dengan gadis itu sangat kuat. Ketegasannya untuk membela agamanya masih tergambar jelas di otakku.
Tak jarang dalam doaku tercantum namanya, berharap sang empunya hidup mempertemukan kami kembali. Sungguh, tiada yang tak mungkin bagi-Nya. Memberiku hidayah melalui seorang gadis, yang usianya jauh lebih muda dariku. Mengembalikan keimananku yang dulu pernah sirna diakibatkan kekecewaan. Ya, dua puluh tahun silam, kala usiaku masih lima tahun, sekelompok manusia memporak-porandakan rumahku dan membantai keluargaku. Aku yang  menyaksikan kejadian itu dibalik pintu,hanya dapat menangis dalam diam. Tergambar jelas diotakku wajah orang-orang yang telah membuat hidupku menjadi sebatang kara.
Sejak saat itu, dendam menjadi teman sejatiku mengecam ketidak adilan tuhan, aku merasa semua yang keluargaku lakukan untuk tuhanku sia-sia.buktinya,tuhan diam saja kala keluargaku dihancurkan? padahal terlalu banyak bukti bahwa keluargaku sangat taat dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Banyak orang yang menaruh simpati padaku atas apa yang telah terjadi. Namun, aku tak butuh belas kasih dari siapapun. Toh, tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang saja tak mempedulikan kebahagiaanku? merenggut orang-orang terkasihku melalui sekelompok manusia yang mengatasnamakan islam. Kebencianku membuncah mengutuk setiap orang yang mengaku beragama Islam.
***
“ mas, mas..boleh numpang tanya? ”sebuah suara mengembalikanku kealam sadarku.
“ oh,iya..ada yang bisa dibantu? ”refleks kumenatap wajah sipenanya.
“ dari tadi saya panggil, eh tapi masnya malah enak ngelamun.” katanya yang membuatku malu
“ iya,ada yang bisa saya bantu? ” tanyaku lagi sembari mencoba menghilangkan rasa malu.
“ panti asuhan Ar-Rahim dimana ya? ”
“ ada keperluan apa? ” tanyaku balik
“ saya ingin menyumbangkan beberapa barang,mungkin bisa bermanfaat. ”pengutaraan yang santai namun tegas.
“ itu disebelah kanan musholla ini.”kataku menunjuk sebuah bangunan sederhana
“ oh,iya terima kasih. ”
                Kupandangi langkahnya yang semakin menjauh. Aneh, sepertinya wajah yang tak asing bagiku. Kucoba untuk mengingat siapa gerangan gadis itu? atau aku hanya mengalami de javu?ah, entahlah.
***

                Kini semua dugaanku benar. Dia adalah Fitri Maulidya seorang gadis yang sudah lama aku tunggu kedatangannya. Namun mengapa? bukan bahagia yang memenuhi ruang hatiku melainkan kekecewaan yang teramat sangat. Kemana jilbab yang dulu menutupi helaian rambutnya? mengapa rambut indah itu kini di obral begitu murahnya. Setiap mata kini bisa menatap liar tubuh indahnya. Aku berusaha untuk tidak mempercayai terhadap apa yang terjadi, namun semua itu ternyata sia-sia. Penantianku terasa hambar, menghadapi kenyataan di ujung mata yang tak sesuai dengan harapan.                    
                Sudah hampir satu bulan, Fitri tinggal dipanti asuhan ini. Entah alasan apa yang digunakan sehingga ketua yayasan mengizinkannya tinggal disini. Kebencianku mulai tumbuh  seiring dengan waktu yang mempertemukan kita semakin sering. Apa yang membuatku membencinya? mungkin karena perubahan penampilannya, yang sangat kontras dengan apa yang kulihat pertama kali.
                Berulang kali kuminta ketua yayasan untuk menegurnya, atau meminjamkan beberapa helai baju muslimah untuk dikenakannya selama berada di lingkungan panti. Karena menurut sudut pandangku hal ini akan mempengaruhi cara pikir anak-anak dalam berbusana. Aku khawatir, mereka yang dididik untuk selalu menutup aurat, akan berubah pikiran dan mengenakan busana sebagaimana Fitri kenakan.
                Situasi seperti ini telah berlangsung hampir sebulan lamanya. Dan aku benar-benar sudah tidak tahan untuk selalu diam. Kuputuskan untuk menemui fitri seusai shalat isya’. Apapun yang akan terjadi nantinya aku tak perduli, dan aku sangat-sangat tak peduli jika yayasan ini tak lagi mendapatkan guyuran dana darinya. Karena itulah salah satu alasan ketua yayasan sungkan untuk menegurnya.
***
“ eh mas Imran, dari tadi disitu?” tanyanya setelah tersadar bahwa ada orang lain.
“ nggak juga ”
“ ada perlu sama saya atau hanya sekedar cari udara segar?”
“ em, dua-duanya”
“ silahkan duduk mas” katanya menunjuk tempat kosong disampingnya
Akupun duduk ditempat tak jauh darinya. Mencoba mengatur nafas mencari kata apa yang sekiranya pantas untuk melatar belakangi maksud kedatanganku. Kutunggu Fitri bertanya, namun hingga lima menit berlalu tak kudengar suara Fitri.
“ Fit “ panggilku
“ iya”
“ enam tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang gadis yang masih berstatus santri di salah satu pondok pesantren di Jombang, dia membuka kembali mata saya.” Sengaja kugantung pembicaraanku
“membuka kembali mata anda, maksudnya?” akhirnya Fitri merespon pembicaraanku
“ dulu saya bisa dibilang salah seorang yang tak percaya akan adanya tuhan”
“ atheis?” tanyanya hati-hati
“ iya”
“ lantas dimana gadis itu sekarang berada?” tanyanya yang mulai tertarik dengan pembicaraanku
“ di samping saya” jawabku spontan. Berharap dia akan menyadari bahwa kita dulu pernah bertemu. Namun sialnya, Fitri justru tertawa mendengar jawabanku.
“ mas Imran ternyata bisa becanda juga ya”
Becanda katanya? Sudah dia lupakankah kejadian itu atau pura-pura lupa? Tanpa basa basi lagi kuceritakan semua keajaiban dalam kehidupanku yang membuatku kembali memeluk agamaku. Kini wajah Fitri berubah drastis, ketegangan tampak sangat jelas.
“ jika saya bukan gadis yang anda maksudkan, bagaimana?” tanyanya datar
“ saya rasa juga begitu, awalnya saya juga beranggapan bahwa anda bukan Fitri Mauidya yang saya tunggu selama enam tahun terakhir ini. Kalian sama tapi berbeda”
“ berbeda?”
“ gadis itu berjilbab, berpegang teguh ajaran agamanya. Tapi, mengapa sekarang gadis itu mengumbar auratnya?”
“ saya bukan gadis yang anda maksud. Lagian kewajiban utama dalam agama kita shalat, bukankah shalat merupakan tiang agama? sedangkan jilbab bisa dibilang kebutuhan sekunder atau bahkan tersier!” nadanya meninggi
“ sepertinya anda tipikal wanita yang sangat selektif bahkan dalam hukum agama anda sendiri. hukum yang anda suka akan anda laksanakan sedangkan yang tidak anda suka anda abaikan”
“ mas Imran, coba anda lihat betapa banyaknya wanita yang berjilbab namun sangat meremehkan shalat”
“ tidak semua wanita seperti itu” sanggahku
“ saya wanita mas, dan saya tahu apa yang dilakukan oleh kaum saya. Pakai jilbab sekarang hanya mengikuti “trend”, lagian saya bisa jaga diri kok”
“ anda jangan berkata bahwa anda dapat menjaga diri. Sekian banyak orang yang berkata demikian, namun terjerumus. Tetapi baiklah kita menerima bahwa anda dapat menjaga diri, namun siapa yang menjamin bahwa yang melihat anda dapat menjaga dirinya seperti anda? Bukankah tabrakan dapat terjadi walaupun anda telah mengemudi dengan baik dan tidak bersalah?”[1]
“ itu resiko mereka, mengapa mereka tidak dapat menjaga pandangan mereka? Zaman sekarang susah dapat kerja kalau pakai jilbab mas, wanita juga butuh kebebasan, bagi saya melakukan lima rukun islam dengan baik sudah lebih dari cukup, bukankah hal itu inti dari agama islam? Jadi tidak haruslah saya berpakaian serba tertutup”
“ penentuan tentang aurat, sama sekali bukanlah untuk menurunkan derajat kaum wanita, bahkan justru sebaliknya. Upaya yang dilakukan oleh sementara pihak dewasa ini yang memamerkan wanita dalam berbagai gaya dan bentuk pada hakikatnya merupakan penghinaan yang terbesar terhadap kaum wanita, sebab ketika itu, mereka menjadikan wanita sebagai sarana pembangkit dan pemuasan nafsu pria yang tidak sehat.”[2]
“ maaf, inti dari pembicaraan anda apa?”
“ saya hanya keberatan jika anda terus berada disini dengan penampilan seperti ini akan berpengaruh buruk terhadap pola pikir anak-anak yang ada disini dalam cara berbusana”
“ maksud anda saya…”
Belum selesai Fitri membela diri , aku pamit pergi dengan dalih malam sudah larut, namun alasan utamanya karena aku merasa darahku sudah sangat mendidih dan kepalaku ingin pecah. Karakternya sama dengan fitri yang aku temui enam tahun lalu. Sangat berpegang teguh terhadap apa yang dia percaya. Mengapa aku sangat sedih? padahal dia bukan siapa-siapaku.
***
Jam sudah menunjukkan angka satu dini hari, kuputuskan untuk mendirikan empat raka’at shalat tasbih dan tiga raka’at shalat witir. Mencari ketenangan dengan cara mengadukan kekecewaanku terhadap penciptaku dalam doa yang kupanjatkan seusai shalat.
“ kakak kenapa nangis?”
Sebuah suara yang membuatku terkejut.
“ kakak sedih ya, habis dimarahin mas Imran?”
Aku sangat mengenal pemilik suara ini. Laras, ya Laras, salah satu penghuni yayasan ini. Seorang gadis yang masih berumur delapan tahun namun sudah menghafal seluruh ayat Al- Qur’an dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Alasan mengapa dia tinggal disini dikarenakan kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan dan tak seorangpun dari keluarganya yang berkenan untuk merawatnya.
“ apa yang dikatakan mas Imran itu benar lho kak, boleh tanya sesuatu?”
Entah mengapa aku sangat tertarik untuk mendengarkan pembicaraan dua kaum hawa ini. Kudekatkan pendengaranku menyentuh tabir yang terbuat dari kain panjang berwarna biru.
“ umur kakak berapa?” lanjut laras
“ dua puluh” jawab Fitri sembari menahan isak tangisnya
“ kakak masih sangat muda dan cantik, dalam islam yang diperbolehkan tidak menutup aurat adalah perempuan tua yang telah berhenti haidnya dan tidak lagi berhasrat untuk menikah. Hal itu terdapat dalam firman Allah dalam surat an-Nur ayat enam puluh yang artinya dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti, yang tidak berhasrat lagi menikah, maka tidaklah ada dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka dengan tidak menampakkan perhiasan; dan memelihara diri sungguh-sungguh dengan menjaga kesucian adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” Penjelasan Laras panjang lebar dan hingga kini aku tak mendengar suara Fitri membantah. Melainkan suara isak tangis yang kian memekakkan telinga.
“ selain itu kak, Islam juga sangat menyayangi wanita. Memerintahkan wanita untuk menutup auratnya guna melindungi wanita itu sendiri. Menutup aurat bukan berarti membatasi wanita dalam beraktifitas.” Penjelasan lanjutan Laras yang tak peduli dihiraukan atau tidak.
“ mana ayat al-Qur’an yang menjelaskan akan hal itu?” akhirnya suara Fitri keluar mempertanyakan referensi atas penjelasan yang diutarakan Laras.
“ banyak kak, salah satunya dalam surat al - Ahzab ayat lima puluh Sembilan. Sebentar ya, Laras ambilkan al-Qur’an terjemah dulu biar kakak bisa buktikan sendiri.”
Sejenak keheningan menyapa, mungkin Laras sedang mengambil al-Qur’an. Airmataku tak mampu lagi terbendung. Betapa bangganya aku terhadap gadis kecil ini. Ternyata dia tak hanya menghafal al-Qur’an namun bisa menguraikan ma’na dan menjelaskan isi kandungan didalamnya dengan sangat tepat.
***
Seminggu sudah berlalu dari malam itu, tak pernah sekalipun aku bertemu lagi dengan Fitri. Satu sisi aku merasa bersalah namun disisi lain aku merasa memang harus melakukannya demi kemaslahatan di yayasan ini. Apa mungkin dia sudah meninggalkan tempat ini,tapi kemana dia pergi? Ah, perasaan apa ini? Mengapa aku mengkhawatirkannya? Mengapa aku sangat takut kehilangannya?
Kuedarkan pandanganku menyapu taman mini yang dibangun yayasan untuk tempat bermain anak-anak. Berbagai jenis permainan yang dapat digunakan bersama-sama sehingga mereka tak akan merasa bahwa mereka seorang diri di dunia ini.
Pandanganku terhenti pada sosok gadis berjilbab yang melangkah anggun kearahku. Deg! Gadis itu Fitri. Subhanallah, dia telah memutuskan untuk berhijab kembali. Terbata aku menjawab salam yang dilontarkannya. Aku tak mampu berkata-kata bahkan aku hanya mampu mengangguk ketika dia meminta izin untuk duduk di tempat yang tak jauh dariku.
“ saya mau pamit, mas. Saya harus pergi. Maaf atas apa yang telah saya lakukan selama ini, terima kasih atas semuanya.”
Dan aku masih dalam diamku. Bibirku terasa kelu untuk mengeluarkan kata-kata, hanya telingaku yang mampu mendengar penuturannya bahwa sebenarnya dia bukan Fitri, namanya adalah Nuri Maulidya, panti asuhan ini sudah menjadi tempat yang kesekian dia datangi           untuk mencari saudara kembarnya yang tak lain adalah Fitri Maulidya. Keluarga satu-satunya yang terpisah darinya karena diadopsi oleh keluarga yang berbeda. Mereka dulu tinggal disebuah panti asuhan di daerah Tangerang. Setelah sebuah gempa bumi meluluhlantahkan rumah mereka dikawasan Jakarta Pusat.
“ kenapa pakai nama Fitri?” tanyaku akhirnya
“ sengaja. Berharap ada orang yang mengenalnya dan membuka jalan untuk mempertemukan saya dengannya”
“ memangnya sekarang mau cari kemana lagi?”
“ entahlah. Namun saya bangga mas, setelah mendengar bahwa Allah telah membuka mata hati seorang pemuda melaluinya. Dan melalui pemuda itu kini Allah telah membuka mata hati saya untuk berhijab, terima kasih. Dikuatkan lagi oleh argumen bidadari kecil yang seminggu lalu tak sengaja mendengar perdebatan antara saya dengan pemuda itu”
Kupandangi wajah cantik itu yang kini tertunduk menahan embun diujung matanya. Perasaan dalam hatiku kian nyata. Dan kini aku benar-benar yakin atas apa yang kupilih.
“ Nuri, sebelum kau pergi. Bisakah kau menjawab satu pertanyaanku?”
“ apa?” jawabnya datar
“bersediakah kau menemaniku mengarungi kehidupan dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?” tanyaku tanpa basa-basi. Tertangkap diujung mataku wajah terkejut gadis ini.
“ tapi…”
“ aku hanya butuh jawaban iya atau tidak” sanggahku tak membiarkan Fitri menyelesaikan ucapannya.
“ iya, dengan satu syarat ” kini mata kami beradu
“ apa? ”
“ setelah kau menjadi suamiku, tolong bimbinglah aku dengan penuh kesabaran untuk menjadi muslimah seutuhnya.” Kepalaku mengangguk sebagai tanda setuju atas persyaratan yang diajukannya.
Matahari tersenyum renyah menjadi saksi atas kebahagiaan yang memenuhi jiwaku. Terima kasihku tertuju pada pelukis alam yang telah mengabulkan doaku. Dari hari ini akan kuukir hariku bersama seorang gadis yang telah ditentukan oleh tuhanku. Berharap melalui rahimnya akan lahir mujahid-mujahid kecilku yang akan berpegang teguh membela agama-Nya.Amin
                                                                           
                                                                  
                                                                             el_tryana                                                                                  





[1] M. Quraish Shihab, Jilbab,pakaian wanita muslimah (Jakarta:Lentera hati,2004)hal.62
[2] Ibid.

Something about dewi sri




Sang surya mulai kembali keperaduannya,hujan menyisakan dingin.bus yang kami tumpangi merapat ketempat yang telah ditentukan.kaca yang mengelilingi kendaraan kami ini meneteskan titik-titik air.kusapu pandanganku pada setiap titik pusat perbelanjaan yang tak akan pernah terlewatkan bagi setiap orang yang mengunjungi kota malang ini.suara adzan berkumandang menandakan setiap orang harus menghentikan semua aktifitasnya.
 “ anak-anak kalian punya waktu selama satu jam,sekarang kalian shalat dulu di mushalla itu”ujar pak fadli yang merupakan guru kesiswaan kami sebari menunjuk kearah seberang jalan yang spontanitas mendapatkan perhatian serempak dari semua penghuni bus.
 “setelah itu kalian boleh belanja sepuasnya buat oleh-oleh”lanjut pak fadli
Tanpa mendapat aba-aba lebih lanjut,kami berhamburan keluar dari bus,menikmati suasana maghrib di kota malang.kulangkahkan kaki menuju musholla sederhana yang tampak terawat dengan baik.bunga-bunga tertata rapi menemani pagar yang mengelilinginya.
 “ kalo jalan itu jangan ngelamun,buuuuuk”suara wulan mengagetkanku.
 “hehehe..”
 “kebiasaan,kalo nggak bisa jawab mesti cuma bisa ketawa doang”
 “pean shalat nggak??”tanyaku
 “iya shalatlah,kalo nggak shalat ngapain ke mushalla?mendingan langsung cari oleh-oleh buat temen-temen asrama”jawabnya panjang lebar
 “ kirain cuma mau nemenin aku”
 “nuarsismu lho,nggak ketulungan mbak yu”katanya dengan nada kesal


                                                            ***
Jam menunjukkan pukul 18.15 WIB.shalat maghrib telah kukerjakan berjama’ah bersama wulan.dengan dzikir ala kadarnya karena wulan ingin cepat-cepat memborong aksesoris yang sempat tertangkap oleh matanya di salah satu toko,waktu turun dari bus.hem,wulan memang maniak aksesoris.dia sempat memaksaku untuk menemaninya belanja,tapi aku menolaknya karena aku ingin menyelesaikan bacaanku tentang pengobatan alami.alhamdulillah,wulan memahamiku bahwasanya buku adalah makanan favoritku,dan tak akan tenang jika belum tamat.
 “orang muslim itu munafik”seorang pemuda disebelahku mengatakan hal yang refleks membuatku menghentikan aktivitas membacaku.
 “maaf,anda bicara dengan siapa?”kuberanikan bertanya padanya
 “dengan orang yang mengaku dirinya beragama islam”jawabnya menatapku tajam
 “apa maksud anda berkata seperti itu?”kucoba untuk menahan amarah
 “islam berkata bahwa umatnya agar hanya menyembah allah,dzat yang tidak berwujud”cetusnya
 “memang benar,allah itu satu dan tidak dapat terlihat oleh mata”jelasku
 “tapi,kenyataannya tidak seperti itu”nadanya meninggi
 “lantas?”
 “umat islam menyembah sebuah bangunan yang biasa mereka sebut dengan ka’bah”ujarnya dengan penuh keyakinan
“tidak!”tegasku
 “kenapa tidak?”
 “orang islam menyembah allah,sedangkan ka’bah merupakan kiblat agar kami serempak menghadap satu arah
Pemuda itu tersenyum kemudian melanjutkan argumennya “islam juga tidak dapat mengerti perasaan wanita”
 “mengapa anda berkata demikian?”tanyaku
 “buktinya islam memperbolehkan poligami”tukasnya
Aku hanya bisa terdiam,ku tak tahu apa yang harus kukatakan.karena aku juga sempat memiliki pikiran yang sama.aku beranggapan bahwa islam merelakan perasaan wanita hanya untuk memuaskan nafsu lelaki yang tak pernah bisa setia pada satu wanita saja.
 “kenapa?anda merasakan hal itu?wanita mana yang mau dimadu?bagi seorang wanita lebih baik di racun daripada dimadu!”kata-katanya memojokkanku,dia tersenyum penuh arti.
 “anda salah!”tegasku
 “mengapa demikian?anda setuju dengan hukum islam yang memperbolehkan poligami?”
 “ islam punya alasan tersendiri,justru karena islam menyayangi wanita maka diperbolehkan poligami dalam islam”pemuda itu tertegun mendengar penuturanku
 “bisa anda jelaskan alasannya?”
 “di zaman yang semakin akhir ini,jumlah wanita jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki,maka diperbolehkannya poligami dalam islam untuk menjaga derajat wanita.seandainya islam melarang poligami,niscaya akan banyak wanita yang tidak memiliki pasangan bahkan hanya akan menjadi seorang simpanan tanpa ada ikatan nikah,dan itu akan menurunkan derajat wanita”
 “anda membela agama anda,meskipun anda tahu bahwa agama anda salah”dia berkata dengan nada mencela,membuat telingaku gatal dan darahku semakin mendidih.
 “saya tidak membela agama saya,akan tetapi saya hanya mengatakan apa adanya tentang agama saya”
 “berarti anda setuju dengan adanya poligami?dan anda rela jika suami anda melakukan poligami?apakah anda ikhlas jika suami anda mencintai wanita selain anda?tidakkah wanita adalah makhluk yang sangat rentan akan hal itu?”
 “itu tugas saya sebagai wanita,saya akan berusaha melayani suami saya dengan sebaik-baiknya sehingga dia tidak akan berpaling pada wanita lain.karena saya hanya ingin seperti siti khadijah dan siti fatimah yang tidak pernah dimadu”tegasku
Sekarang pemuda itu yang terdiam mendengar penjabaranku.tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya.
 “satu hal lagi”lanjutku
 dia menatapku penuh tanda tanya.sengaja tak kulanjutkan perkataanku.aku ingin melihat reaksi apa yang akan dia tampakkan padaku.
 “apa lagi?”tanyanya dengan ekspresi yang di buat sedatar mungkin.
 “LAKUM DIINUKUM WA LII YADIIN”kataku mantab
 “surat al-kaafikun”sanggahnya
Deg!dia tahu ayat itu.siapakah orang ini sebenarnya?tanyaku dalam hati.
 “bolehkah saya menebak sesuatu tentang anda?”tanyaku
 “silahkan”
 “anda adalah orang yang menganut paham atheisme,dan sekarang anda sedang mencari kebenaran suatu agama.karena anda lelah menghadapi kehampaan hidup tanpa adanya tuhan.anda juga mempelajari islamologi,maka dari itu anda tahu yang saya ungkapkan tadi merupakan potongan ayat dalam surat al-kaafirun”
 “apa islam juga mengajarkan agar seseorang bisa mendeteksi orang lain?”tanyanya
 “hehehe..berarti dugaan saya tepat”
 “iya tepat,bahkan sangat tepat!bolehkah saya juga menebak tentang siapa anda?”
 “silahkan”
 “ anda seorang mahasiswi yang kuliah di salah satu universitas yang ada di kota malang ini”ujarnya penuh percaya diri
 “salah”
 “ lantas?”
 “ saya adalah santri yang masih duduk di kelas sembilan MTs,di salah satu pesantren yang terletak di kota jombang”paparku
Dia menatapku lekat,seakan tidak percaya dengan apa yang telah aku katakan.
 “saya datang ke malang bersama teman-teman dalam rangka study tour ke jatim park,dan kebetulan mampir ke dewi sri ini untuk membeli buah tangan”imbuhku
Dia hanya terdiam,tidak ada tanggapan yang berarti.mengakibatkanku terdiam pula.keheningan menghiasi kami berdua.tak ada yang membuka pembicaraan.hingga tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing lagi bagiku
 “fitri,ayo pulang”teriak wulan menggelegar
 “iya,ayo”ucapku menyetujui ajakan wulan sebari beranjak dari tempat dudukku
 “fitri tunggu”pemuda itu mengeluarkan suara
 “darimana tahu namaku?”tanyaku heran
 “tadi teman kamu manggil gitu”
 “ ooo”
 “nama lengkapnya?”tanyanya ingin tahu
 “ fitri maulidia”
 “ allah telah memberikan hidayahnya kepadaku melaluimu maka aku ingin kamu menyaksikan aku sejenak”
 aku bingung dengan apa yang dia maksudkan.
 “ASYHADU ALLA ILIHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH”ucapnya dengan penuh keharuan
dia mengucapkan dua kalimat syahadat,berarti dia telah memeluk agama islam.subhanallah.tanpa kusadari butiran mutiara bening menetes dipipiku.
                                                ***
Bus melanjutkan perjalanannya mengantarkan kami kembali ke penjara suci,membawa sebersit kenangan tentang seorang muallaf.
 “ cie..cie..akhirnya dapat kenalan cowok disini,cakep fit.mang namanya siapa?”ledek wulan
 “namanya?upz aku juga nggak tahu namanya siapa?kataku
 “kok bisa?”
 “ bisa aja”
Pembicaraan yang panjang lebar itu tidak menanggalkan namanya dalam memori otakku.
Biarkan saja,karena yang terpenting aku mendapatkan pelajaran berharga dalam perjalanan ini.

Malam kamis,jam 02.30 WIB

pelangi